PROBOLINGGO – Peternak ayam petelur di Kabupaten Probolinggo menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah harga jual yang terus merosot, biaya produksi justru meningkat karena harga pakan ayam mengalami kenaikan. Kondisi tersebut membuat banyak peternak mulai mengeluhkan kerugian yang terus membesar.
Berdasarkan pantauan hingga Senin (29/6), harga telur ayam ras di tingkat peternak hanya berada di kisaran Rp 17.500 hingga Rp 19.000 per kilogram. Padahal sekitar dua pekan sebelumnya, harga masih bertahan di level Rp 22.000 hingga Rp 23.000 per kilogram. Sementara di tingkat pedagang eceran, telur dijual sekitar Rp 21.000 per kilogram.
Salah seorang pengurus peternakan ayam petelur di Desa Tigasan Kulon, Kecamatan Leces, Sunan Saifurrahman, mengatakan penurunan harga berlangsung sangat cepat dan membuat peternak kesulitan menutup biaya operasional.
Menurut pria berusia 38 tahun tersebut, harga telur terus merosot hingga menyentuh Rp 17.500 per kilogram. Nilai tersebut dinilai sudah jauh di bawah titik impas usaha peternakan.
"Harganya terus turun sampai sekarang tinggal Rp 17.500 per kilogram. Hancur harganya. Peternak merugi banyak," ujarnya.
Sunan menjelaskan, rendahnya harga telur sebenarnya masih dapat ditoleransi apabila diimbangi dengan penurunan harga pakan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Harga pakan ayam terus merangkak naik hingga mencapai sekitar Rp 450 ribu per sak berisi 50 kilogram. Padahal sekitar dua pekan lalu harga masih berkisar Rp 430 ribu per sak.
Kenaikan harga pakan tersebut membuat beban produksi semakin berat. Sebab, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur.
Ia menegaskan, peternak tidak memiliki banyak pilihan untuk menekan biaya. Mengurangi porsi pakan ataupun mengganti bahan pakan dengan kualitas lebih rendah justru berisiko mengganggu kesehatan ayam serta menurunkan produktivitas.
"Kalau pakannya dikurangi atau diganti, pertumbuhan ayam bisa terganggu dan kualitas telurnya menurun. Bahkan ayam bisa tidak bertelur. Jadi kami serba sulit," keluhnya.
Keluhan senada disampaikan Roki Sirajuddin, peternak ayam petelur asal Desa Warujinggo, Kecamatan Leces. Saat ini harga telur di kandangnya hanya mencapai sekitar Rp 19.000 per kilogram, sementara seluruh biaya operasional, terutama pakan, terus meningkat.
Menurut Roki, penurunan harga berlangsung drastis dalam waktu singkat sehingga arus kas peternak terganggu. Kondisi tersebut membuat modal usaha semakin sulit berputar.
"Turunnya tidak pelan-pelan. Ditambah harga pakan yang terus melambung," katanya.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur sekaligus mengendalikan harga pakan ternak. Menurutnya, keseimbangan antara harga jual hasil produksi dan biaya produksi menjadi kunci keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
"Kalau memang harga telur diturunkan, seharusnya harga pakan juga dikendalikan. Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, banyak peternak bisa gulung tikar karena modalnya tidak bisa berputar. Harga telur turun, sementara pakan tetap mahal," ujarnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut justru memberikan keuntungan bagi pedagang maupun konsumen. Harga telur yang lebih murah mendorong peningkatan daya beli masyarakat.
Anggi, pedagang telur di Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo, mengatakan harga telur eceran saat ini berada di kisaran Rp 21.000 per kilogram. Harga tersebut mulai berlaku sejak Kamis (25/6), turun dari sebelumnya Rp 22.000 per kilogram.
"Sejak Kamis (25/6) harganya sudah Rp 21.000 per kilogram. Sebelumnya masih Rp 22.000," katanya.
Menurut Anggi, turunnya harga membuat penjualan meningkat cukup signifikan. Biasanya ia menyediakan sekitar 10 krat telur setiap hari, masing-masing berisi sekitar 15 kilogram. Jika sebelumnya sisa stok pada akhir hari masih mencapai tujuh hingga sepuluh kilogram, kini hanya tersisa sekitar tiga hingga empat kilogram.
Meningkatnya penjualan menunjukkan konsumen memanfaatkan momentum harga telur yang lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Perdagangan (DKUP) Kota Probolinggo, Ferdhiansyah Donny Anggara, menjelaskan bahwa penurunan harga dipengaruhi kondisi di tingkat hulu.
Berdasarkan informasi yang diterima dari sejumlah agen telur, salah satu faktor utama adalah melemahnya permintaan pasar. Hal tersebut antara lain dipicu oleh berhentinya sementara penyerapan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang memasuki masa libur.
Selain itu, bertambahnya jumlah peternak ayam petelur menyebabkan produksi meningkat sehingga pasokan di pasar melimpah. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan inilah yang akhirnya menekan harga telur di tingkat peternak.
"Salah satunya karena permintaan pasar, seperti MBG yang sedang libur. Faktor lainnya adalah overpopulasi atau meningkatnya jumlah peternak ayam petelur sehingga pasokan melimpah," jelas Donny.
Ia menilai upaya stabilisasi harga sebaiknya dilakukan secara regional di tingkat Jawa Timur karena Kota Probolinggo bukan merupakan sentra utama peternakan ayam petelur. Kebijakan yang bersifat lintas daerah dinilai lebih efektif untuk mengendalikan distribusi maupun keseimbangan pasokan.
Meski demikian, Donny mengakui bahwa kondisi harga yang lebih rendah membawa dampak positif bagi pelaku perdagangan. Penjualan di tingkat agen maupun pedagang eceran mengalami peningkatan karena daya beli masyarakat ikut terdongkrak.
"Kalau harga turun, penjualan di tingkat agen justru meningkat karena daya beli masyarakat ikut naik," pungkasnya.
Sementara itu, hingga berita ini ditulis, Kepala Bidang Perdagangan DKUPP Kabupaten Probolinggo, Mehdinsareza Wiriarsa, belum memberikan keterangan terkait langkah pemerintah daerah dalam mengantisipasi anjloknya harga telur maupun upaya menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur.(red/lis)
Posting Komentar