KEDIRI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 dengan memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan serta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi agar dampak musim kemarau dapat diminimalkan sejak dini.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, mengatakan musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga Oktober. Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan BPBD, terdapat lima kecamatan yang masuk kategori rawan kekeringan, yakni Kecamatan Mojo, Grogol, Ngancar, Plosoklaten, dan Semen. Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas pemantauan karena memiliki potensi mengalami penurunan ketersediaan air bersih saat curah hujan rendah dalam waktu yang cukup panjang.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiapkan dua unit armada tangki air beserta tandon yang siap digunakan untuk mendistribusikan air bersih apabila masyarakat membutuhkan. Selain itu, koordinasi juga dilakukan dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Palang Merah Indonesia (PMI), serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar proses penyaluran bantuan air dapat dilakukan dengan cepat apabila kondisi darurat terjadi.
Hingga akhir Juli 2026, BPBD mencatat belum menerima permintaan distribusi air bersih dari masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan air di wilayah rawan masih dapat terpenuhi. Beberapa titik yang sebelumnya mengalami kesulitan air bersih juga telah mendapatkan penanganan melalui pembangunan infrastruktur pendukung. Di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, misalnya, telah dibangun tiga sumur bor oleh PDAM. Sementara itu, jaringan pipa yang sempat mengalami kerusakan di wilayah Sepawon, Kecamatan Plosoklaten, telah diperbaiki sehingga pasokan air kembali normal. Adapun di Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, dibangun jaringan pipa baru menuju sumber air lain guna menjaga kelancaran distribusi air kepada masyarakat.
Selain ancaman kekeringan, BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Kawasan perbukitan, hutan, serta lahan kering di Kabupaten Kediri dinilai memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran, terutama ketika cuaca panas disertai angin kencang. Mayoritas kejadian kebakaran dipicu oleh faktor kelalaian manusia, seperti pembakaran sampah secara sembarangan maupun puntung rokok yang dibuang di area kering.
Data dari petugas pemadam kebakaran menunjukkan bahwa dalam satu hari, tepatnya pada 24 Juli 2026, terjadi sebelas kejadian kebakaran di berbagai lokasi di Kabupaten Kediri. Peristiwa tersebut meliputi kebakaran rumah, kandang ternak, rumpun bambu, lahan kosong, lahan tebu, hingga kawasan hutan jati. Kondisi ini menjadi indikator meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau sehingga diperlukan partisipasi masyarakat dalam melakukan pencegahan.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun aktivitas lain yang dapat memicu api di area terbuka. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau terjadi kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan secara cepat dan mencegah meluasnya dampak bencana selama musim kemarau berlangsung. (red/lis)
Posting Komentar